then she cry……

28 11 2008

Menangislah  (a nasheed by Haris Shaffix)


Kau datang padaku, seperti biasa

Kusambut bahagia dengan tangan terbuka

Kau balas dengan senyum seadanya

Kutahu ada sesuatu yang berbeda

Mencoba berkedip, menahan tegar di ujung mata

Dalam pelukku kau curahkan semua

…………………………………………………………

Menangislah dibahuku, ku disini untukmu

Menangislah dibahuku, karena ku sahabtmu

Menangislah……..

Dibahuku kau berikan ku kepercayaan

………………………………….

Untuk itu air mata tlah dicipta

Karena bukan hanya bahagia yang ada di dunia

Menangislah………………………………………………………..


Hujan senja itu hanya turun sesaat, seperti tangisanmu. Mungkin ia hendak meredam suara gemuruh galau hatimu. Atau……. Ia pun turut menangis olehmu? Entahlah….

Dan deras kembali tumpah saat malam itu kau katakan semuanya. Seolah ia juga hendak menyimpan duka mendalam yang kau simpan sejak dulu. Hari ini kau keluarkan semua dan kulihat derai itu begitu deras tak terbendung. Mendung di parasmu tak kian berganti cerah. Dan lidah ini mendadak kelu, tak lagi lancar berucap. Pun ketika deraiku turut mengalir. Kami terdiam dalam istighfar

Kawan, begitu beratnya beban yang kau tanggung. Tak satupun yang kau bagikan padaku. Bahkan lebih dari 10 tahun kebersamaan kita, masih banyak hal yang tak kuketahui dari dirimu. Misteri itu akhirnya terungkap, lepas

Saudaraku, tak seorang pun mampu mengatasi semuanya sendiri. Layaknya sebuah bom waktu, kepedihan yang kau timbun sejak bertahun lalu kini meledak. Menghancurkan tiap semangat dan cinta cita mu. Nyaris tak berbekas menyisakan segenap ke-putus-asa-an dalam benakmu.

Tak ada yang salah, semua telah terjadi dan yakinlah bahwa setiap fase hidup yang kau lewati bertabur hikmah. Ia mengajarkan kesabaran, ketabahan, ketegaran, ketakwaan, keikhlasan dan semua nilai yang membuat tiap waktu yang kita lalui lebih bermakna.

Dan aku masih disini, mencoba memberikan tiap butir cinta yang telah ia berikan. Tetaplah disampingku sobat. Mari berjalan bersisian menatap optimis pada takdir, yang mungkin masih panjang, yang terbentang di depan kita. Serasa karpet merah yang terhampar.

Tetapi ia tidak lurus, ada banyak persimpangan. Jalan lurus itu bertabur duri dan kerikil tajam yang mampu menembus kulit tipis kita. Sedangkan lainnya bertabur emas dan permata tiruan yang kilaunya membutakan mata hati serta nurani.

Karena ku sahabatmu………………..
Wednesday, 11.57 pm
November 26th, 2008


작업

Information

댓글 남기기

죄송합니다,로그인을 해야 댓글을 남길 수 있습니다.