Menangislah (a nasheed by Haris Shaffix)
Kau datang padaku, seperti biasa
Kusambut bahagia dengan tangan terbuka
Kau balas dengan senyum seadanya
Kutahu ada sesuatu yang berbeda
Mencoba berkedip, menahan tegar di ujung mata
Dalam pelukku kau curahkan semua
…………………………………………………………
Menangislah dibahuku, ku disini untukmu
Menangislah dibahuku, karena ku sahabtmu
Menangislah……..
Dibahuku kau berikan ku kepercayaan
………………………………….
Untuk itu air mata tlah dicipta
Karena bukan hanya bahagia yang ada di dunia
Menangislah………………………………………………………..
Hujan senja itu hanya turun sesaat, seperti tangisanmu. Mungkin ia hendak meredam suara gemuruh galau hatimu. Atau……. Ia pun turut menangis olehmu? Entahlah….
Dan deras kembali tumpah saat malam itu kau katakan semuanya. Seolah ia juga hendak menyimpan duka mendalam yang kau simpan sejak dulu. Hari ini kau keluarkan semua dan kulihat derai itu begitu deras tak terbendung. Mendung di parasmu tak kian berganti cerah. Dan lidah ini mendadak kelu, tak lagi lancar berucap. Pun ketika deraiku turut mengalir. Kami terdiam dalam istighfar
Kawan, begitu beratnya beban yang kau tanggung. Tak satupun yang kau bagikan padaku. Bahkan lebih dari 10 tahun kebersamaan kita, masih banyak hal yang tak kuketahui dari dirimu. Misteri itu akhirnya terungkap, lepas
Saudaraku, tak seorang pun mampu mengatasi semuanya sendiri. Layaknya sebuah bom waktu, kepedihan yang kau timbun sejak bertahun lalu kini meledak. Menghancurkan tiap semangat dan cinta cita mu. Nyaris tak berbekas menyisakan segenap ke-putus-asa-an dalam benakmu.
Tak ada yang salah, semua telah terjadi dan yakinlah bahwa setiap fase hidup yang kau lewati bertabur hikmah. Ia mengajarkan kesabaran, ketabahan, ketegaran, ketakwaan, keikhlasan dan semua nilai yang membuat tiap waktu yang kita lalui lebih bermakna.
Dan aku masih disini, mencoba memberikan tiap butir cinta yang telah ia berikan. Tetaplah disampingku sobat. Mari berjalan bersisian menatap optimis pada takdir, yang mungkin masih panjang, yang terbentang di depan kita. Serasa karpet merah yang terhampar.
Tetapi ia tidak lurus, ada banyak persimpangan. Jalan lurus itu bertabur duri dan kerikil tajam yang mampu menembus kulit tipis kita. Sedangkan lainnya bertabur emas dan permata tiruan yang kilaunya membutakan mata hati serta nurani.
Karena ku sahabatmu………………..
Wednesday, 11.57 pm
November 26th, 2008